
Tulungagung, 25 Juni 2025 — Menjawab kebutuhan pendidikan di era digital yang penuh tantangan, LP Ma’arif NU Tulungagung mengirimkan empat pendidik terbaik dari berbagai satuan pendidikan untuk mengikuti Pelatihan Kurikulum dengan Pendekatan Deep Learning, yang digelar oleh PW LP Ma’arif NU Jawa Timur pada 22–24 Juni 2025.
Pelatihan ini merupakan bagian dari komitmen LP Ma’arif dalam mendukung transformasi pendidikan yang berorientasi pada pemahaman mendalam, berpikir kritis, dan pembelajaran kontekstual. Pendekatan deep learning dipandang sebagai strategi pembelajaran yang tidak hanya mengasah aspek kognitif, tetapi juga menggali kemampuan reflektif, afektif, dan keterampilan problem-solving siswa secara menyeluruh.
Hari Pertama: Menyusun Paradigma Baru Kurikulum Berbasis Pemahaman Mendalam
Kegiatan pelatihan dimulai dengan pengenalan filosofi deep learning dalam kurikulum masa kini. Fokus materi hari pertama terletak pada bagaimana deep learning mampu menggeser pola pikir guru dari sekadar “menyampaikan materi” menjadi “membimbing pemahaman”.
Peserta diajak mendalami prinsip-prinsip kurikulum yang membangun makna belajar: pembelajaran harus mendorong peserta didik untuk menghubungkan materi dengan konteks nyata, berpikir secara kritis, serta mampu mengintegrasikan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam sesi ini, guru dilatih untuk mengkaji ulang rancangan kurikulum mereka agar lebih bersifat eksploratif, berbasis nilai, dan mendorong pemahaman lintas disiplin.
Hari Kedua: Rancang Bangun Pembelajaran Deep Learning yang Humanis dan Adaptif
Pada hari kedua, peserta melakukan praktik penyusunan modul dan perangkat ajar yang mengadopsi pendekatan deep learning. Kegiatan ini dilaksanakan dalam bentuk lokakarya kolaboratif, di mana guru dari berbagai jenjang pendidikan mendesain strategi pembelajaran yang mendalam, reflektif, dan relevan dengan karakteristik peserta didik masa kini.
Pendekatan pembelajaran diarahkan pada strategi seperti inquiry-based learning, project-based learning, case-based learning, dan problem-based learning. Guru tidak hanya menyusun RPP atau modul, tetapi juga mengevaluasi kembali indikator dan asesmen agar tidak hanya mengukur hafalan, melainkan juga pemahaman konsep, sikap, dan keterampilan.
Sesi ini memperkuat peran guru sebagai perancang pengalaman belajar yang bermakna, yang membangun curiosity, koneksi emosional dengan materi, dan kemampuan untuk berpikir lintas konteks.
Hari Ketiga: Praktik Reflektif dan Integrasi Digital dalam Deep Learning
Hari terakhir diisi dengan praktik reflektif melalui sesi micro teaching dan peer review. Para peserta mempresentasikan hasil rancangan kurikulum dan praktik pengajaran yang telah mereka susun. Rekan peserta lainnya berperan sebagai pengamat untuk memberikan masukan, kritik membangun, serta refleksi bersama.
Dalam sesi ini, peserta juga dikenalkan dengan berbagai digital tools yang mendukung pembelajaran mendalam, seperti Google Classroom, Nearpod, Edpuzzle, dan Jamboard. Teknologi tidak digunakan sebagai pelengkap, tetapi sebagai jembatan yang memperluas akses, kolaborasi, dan pengalaman belajar siswa.
Sesi ini sekaligus mengajak guru untuk berpikir secara reflektif: bagaimana materi disampaikan, bagaimana siswa belajar, dan bagaimana teknologi bisa memperdalam bukan hanya mempercepat proses belajar.
Selaras dengan Kurikulum Merdeka dan Profil Pelajar Masa Depan
Pelatihan ini juga memperkaya implementasi Kurikulum Merdeka, khususnya dalam membentuk Profil Pelajar Pancasila dan Profil Pelajar Aswaja. Pembelajaran berbasis deep learning sejalan dengan nilai-nilai tersebut: mandiri, kritis, bernalar, religius, dan mampu beradaptasi di era global.
Pendekatan ini mendorong guru untuk menanamkan spiritualitas, kemanusiaan, dan kebangsaan melalui proses belajar yang aktif dan menyentuh hati.
Komitmen LP Ma’arif NU Tulungagung: Menggerakkan Perubahan dari Ruang Kelas
Ketua LP Ma’arif NU Tulungagung menegaskan bahwa pendekatan deep learning bukan sekadar metode baru, tetapi cara pandang baru dalam mendidik.
“Kami ingin guru menjadi pembelajar sepanjang hayat, yang tidak hanya menyampaikan ilmu, tapi membangkitkan pemikiran dan karakter peserta didik. Pendidikan yang bermutu lahir dari guru yang tumbuh, reflektif, dan berani berinovasi,” tegasnya.
Melalui pelatihan ini, guru-guru Ma’arif dibekali kompetensi untuk mengembangkan kurikulum yang lebih humanis, transformatif, dan bermakna—serta menciptakan kelas yang menghidupkan semangat belajar, bukan sekadar ruang penghafalan.
Penutup: Menyulam Masa Depan Melalui Pembelajaran yang Mendalam
LP Ma’arif NU Tulungagung meyakini bahwa masa depan pendidikan tidak dibangun oleh teknologi semata, tetapi oleh pendidik yang berpikir mendalam, mengajar dengan hati, dan berinovasi secara terus-menerus.
Dengan kurikulum yang berakar pada nilai dan pendekatan deep learning, para guru memiliki bekal untuk mencetak generasi pembelajar yang tangguh—siap menyambut tantangan zaman dengan nalar, nurani, dan nilai.
