APAKAH ALQUR’AN AKAN MENJADI PEMBELAMU?
Oleh: Komarodin, M.Pd.I (PC LTMNU Kab. Tulungagung)
LEMBAGA TAKMIR MASJID NAHDLATUL ULAMA’ KAB TULUNGAGUNG
Apakah Alqur’an akan menjadi pembelamu?
الْحَمْدُ لِلَّهِ، الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ الْمَلِكُ الْقُدُوسُ الْعَزِيزُ الْعَلَّامُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدًا خَيْرَ الْأَنَامِ. اللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً تَمْلَأُ الْأَكْوَانَ مِنْ يَوْمِنَا هَذَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامِ، وَهُوَ الَّذِي أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَيْهِ الْقُرْآنَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ. أَمَّا بَعْدُ فَإِنِّي أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللَّهِ. فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ. وَقَالَ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ: إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
Hadirin Jama’ah Jum’ah Rahimakumulloh
Marilah kita terus berusaha meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT dengan bersungguh-sungguh, menjauhi larangan-Nya serta menjalankan perintah-Nya.
Ma’asyirol muslimin rahimakumulloh
Dalam khutbah singkat ini khatib memberi judul: Apakah Al Qur’an akan menjadi pembela kita kelak di akhirat?
Nabi Muhammad SAW telah diberikan keistimewaan dengan mu’jizat Al Qur’an. Inilah mu’jizat terbaik yang diberikan Allah SWT kepada Nabi-Nya karena dapat disaksikan oleh umatnya sepanjang zaman. Dan tidak ada buku maupun kitab yang dihafalkan oleh jutaan umat manusia di seluruh dunia yang tidak berbeda dari hafalan satu dengan lainnya kecuali Al Qur’an. Demikian istimewanya Al Qur’an sampai-sampai hanya manusia yang dapat menerima Al Qur’an ini. Allah SWT berfirman.
Padahal dia kokoh dan keras, karena dia khawatir tidak menunaikan hak Allah dalam mengagungkan Al-Qur’an.
Gunung saja yang demikian keras dan kokohnya, akan hancur karena takut, jika diturunkan kepadanya Al-Qur’an. Namun mengapa hati kita tidak bergetar ketika disebut nama Allah? Mengapa hati kita tidak gentar ketika mendengar ayat-ayat Allah? Mengapa jiwa kita tidak gemetar ketika membaca Al-Qur’an yang mengisahkan kisah negeri akhirat? Apakah hati kita telah menjadi lebih keras dari batuan gunung?
Ma’asyirol muslimin rahimakumulloh
Sedemikian dahsyatnya Al-Quran sebagai penuntun kehidupan kita, akan tetapi masih banyak dari kita tidak menyadarinya dan tidak mendekat kepada Al Qur’an. Tidak menjadikannya sebagai bacaan wajib dalam harian kita. Dengan alasan kesibukan dan pekerjaan yang terus berkejaran setiap waktu, kita sering kali melalaikan Al Qur’an. Padahal kita masih sempat buka HP sepanjang waktu, membalas chat/SMS teman melalui medsos dan bahkan kita punya waktu yang banyak untuk nonton bola sampai larut malam. Akan tetapi dengan Al Qur’an kita hanya memberikan waktu yang sedikit bahkan mungkin tidak kebagian waktu. Padahal ketika di alam kubur kita akan ditanya: “Apa panutanmu?” Dan Al Qur’an jawabnya. Bukan ditanya “Apa merk HP-mu?” atau yang lain.
Ma’asyirol muslimin rahimakumulloh
Kita tahu kedahsyatan surat Tabarok yang dapat menyelamatkan seseorang jika mampu menghafalkannya sampai maut menjemput. Akan tetapi kita, hanya sekedar membacanya sebelum tidur saja kita tidak sempat karena keburu ngantuk setelah lama main HP atau menonton televisi. Sedangkan surat ini akan memberikan perlindungan kita dari api neraka. Sebagaimana Sabda Rasulullah SAW:
فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « هِيَ الْمَانِعَةُ هِيَ الْمُنْجِيَةُ تُنْجِيهِ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ ». قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ. وَفِي الْبَابِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, “Dia adalah penghalang, dia adalah penyelamat yang menyelamatkannya dari siksa kubur.” (HR. Tirmidzi, No. 2890)
Bukankah nanti yang memberikan syafaat kita adalah Al Qur’an, bukan HP atau TV? Al Qur’an lah yang akan memberi syafaat kita. Sebagaimana sabda Nabi SAW:
اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ
“Bacalah Al-Qur’an, sesungguhnya ia akan datang di hari kiamat memberi syafaat kepada pembacanya” (HR: Shahih Muslim).
Lalu kenapa kita tidak mengejar ketertinggalan kita untuk kembali mendekat kepada Al Qur’an. Membacanya, merenungi maknanya serta menjadikan Al Qur’an sebagai tuntunan hidup kita. Sehingga kita bisa menjadi ahlinya/wali Allah SWT, sebagaimana hadits dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ اللَّهَ أَهْلِينَ مِنَ النَّاسِ قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَنْ هُمْ؟ قَالَ: هُمْ أَهْلُ الْقُرْآنِ، أَهْلُ اللَّهِ وَخَاصَّتُهُ
“Sesungguhnya di antara manusia ada yang menjadi ‘ahli’ Allah”. Para Sahabat radhiyallahu ‘anhum bertanya, “Wahai Rasulullah! Siapakah mereka?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Mereka adalah ahli Alquran, (merekalah) ahli (orang-orang yang dekat dan dicintai) Allah dan diistimewakan di sisi-Nya.” (HR. Ahmad dan selainnya).
Ma’asyirol muslimin Rahimakumullah
Hidup ini tidak lama, kita diberikan amanah berupa tubuh yang sehat, panca indera yang sempurna. Dan ini tidak selamanya. Satu persatu semua akan dikurangi kenikmatan ini. Tubuh menjadi lemah, mata menjadi rabun, ingatan menjadi terus berkurang. Dan pada gilirannya kita akan menghadap kepada Allah SWT dengan membawa amal kita selama kita hidup di dunia. Dan Al Quran yang kita hafal dan kita baca akan menjadi pembela kita.
Lalu bagaimana dengan kita yang membaca Al Qur’annya masih terbata-bata? Atau bahkan belum bisa baca Al Qur’an sama sekali? Kita tetap bersyukur karena masih diberikan kesempatan mempelajari Al Qur’an meskipun mata kadang disambung dengan kacamata. Ini adalah modal kita dan kesempatan kita untuk kembali mempelajarinya. Bahkan kita akan menjadi husnul khotimah jika nanti saat diambil nyawa kita oleh Allah SWT ketika kita dalam proses mempelajari Al Qur’an.
Belajarlah kepada guru atau teman yang mengerti Al Qur’an. Karena Al Qur’an tidak boleh dipelajari sendiri, akan tetapi wajib dengan guru. Karena guru akan menunjukkan bagaimana cara mengeluarkan huruf yang benar dari makhrajnya. Dan membenahi bacaan kita yang masih salah. Maka perbaguskanlah bacaan Al Qur’an dengan ilmu tajwid. Sebagaimana Imam Jazari dalam muqoddimahnya:
وَالْأَخْذُ بِالتَّجْوِيدِ حَتْمٌ لَازِمُ مَنْ لَمْ يُجَوِّدِ الْقُرْآنَ أَثِمَ
Membaca Al Qur’an dengan tajwid itu wajib dan orang yang tidak mentajwidkan Alqur’an hukumnya berdosa.
Ma’asyirol muslimin Rahimakumullah
Lalu bagaimana dengan rasa malu atau gengsi yang muncul ketika ada kehendak hati untuk ikut belajar Al Qur’an? “Wong sudah sepuh kok masih mau mempelajari Al Qur’an sementara yang lain sudah lancar membaca bahkan anak-anak kecil pun sudah mahir melafadzkan ayat-ayat Al Quran.”
Ma’asyirol muslimin Rahimakumullah
Kita tidak boleh berlindung dari kata malu untuk mempelajari Al Qur’an. Karena itu adalah kata-kata syetan yang dihembuskan dalam benak dan pikiran kita agar langkah kita terhenti dan tidak mempelajarinya sampai ajal menjemput kita. Itulah pintarnya syetan memperdaya kita dengan berlindung rasa malu agar kita tetap jauh dari Al Qur’an. Dan syetan akan senang jika kita terus mengikutinya.
Akan tetapi apakah kita tidak memikirkan nasib kita kelak ketika semua tidak ada yang bisa menolong kecuali amal sholeh kita. Dan Al Qur’an yang seharusnya menjadi andalan kita untuk membela kita tetapi kita terlena dengan kehidupan dunia dan tidak sempat mempelajarinya. Lalu bagaimana nasib kita nanti di akhirat kelak? Bukankah hanya kita sendiri yang bertanggung jawab terhadap nasib kita sendiri?
Ma’asyirol muslimin Rahimakumullah
Jangan malu untuk terus belajar meski usia tidak lagi muda. Hadirkan Al Qur’an di dalam rumah kita, agar cahaya rumah kita memancar dan dikenali di langit oleh para malaikat utusan Allah SWT. Mulailah untuk kembali dekat dengan Al Qur’an, membacanya dan mencari guru yang tepat untuk membenahi bacaan kita. Jangan malu karena nasib kita ada pada diri kita. Datangilah tempat-tempat diselenggarakannya pembelajaran Al Qur’an untuk orang-orang dewasa atau pengajian-pengajian rutin lainnya. Semoga kelak kita dikumpulkan dengan ahli Al Qur’an dan Al Qur’an akan membela kita untuk memperoleh maghfiroh Allah SWT. Aamiin.
بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
Khutbah II
الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوَانِهِ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيمًا كَثِيرًا
أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللَّهَ فِيمَا أَمَرَ وَانْتَهُوا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَنْبِيَائِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلَائِكَتِكَ الْمُقَرَّبِينَ وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ وَتَابِعِي التَّابِعِينَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِينَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّينَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِينَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّينِ وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ. اللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ وَسُوءَ الْفِتْنَةِ وَالْمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيسِيَا خَاصَّةً وَسَائِرِ الْبُلْدَانِ الْمُسْلِمِينَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ. عِبَادَ اللَّهِ! إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ
