Mulai Tahapan Sekolah Unggulan, LP Ma’arif NU Tulungagung Petakan Potensi Khas Setiap Lembaga

Tulungagung – PC Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama (LP Ma’arif NU) Tulungagung mulai menjalankan tahapan pengembangan sekolah dan madrasah unggulan di lingkungan LP Ma’arif NU. Langkah awal tersebut ditandai dengan penyelenggaraan Diklat Pemetaan Keunggulan Lembaga yang berlangsung pada 8–9 Agustus 2026 di Aula PC LP Ma’arif NU Tulungagung.

Kegiatan ini menjadi bagian penting dari upaya LP Ma’arif NU untuk mendorong setiap satuan pendidikan agar tidak sekadar berkembang secara administratif, tetapi memiliki identitas, karakter, dan keunggulan yang benar-benar tumbuh dari potensi masing-masing lembaga.

Sebanyak tujuh lembaga pendidikan mengikuti diklat tersebut. Enam lembaga berasal dari lingkungan PC LP Ma’arif NU Tulungagung, sedangkan satu lembaga berasal dari PC LP Ma’arif NU Blitar.

Lembaga dari Tulungagung yang mengikuti kegiatan ini adalah RA NU Terpadu Sumbergempol, MINU Terpadu Sumbergempol, MI Miftahul Ulum Rejosari Kalidawir, MI Al-Islah Tiudan Gondang, SDI Al-Hidayah Samir Ngunut, serta MTs Darul Falah Bendiljati Kulon Sumbergempol Tulungagung. Sementara itu, peserta dari Kabupaten Blitar berasal dari SDI Hasyim Asy’ari Pikatan, Wonodadi, Blitar.

Kehadiran lembaga dari luar Kabupaten Tulungagung menunjukkan bahwa proses pengembangan sekolah unggulan yang digagas LP Ma’arif NU mulai menjadi ruang belajar bersama antarlembaga pendidikan Ma’arif di Jawa Timur.

Diklat secara resmi dibuka oleh Ketua PW LP Ma’arif NU Jawa Timur, Prof. Masdar Hilmy, MA., Ph.D. Pembukaan juga dihadiri Wakil Ketua PCNU Tulungagung Bidang Pendidikan, H. Khozin, M.Pd.I.

Dalam kegiatan tersebut, peserta tidak hanya menerima materi mengenai konsep sekolah unggulan. Mereka diarahkan untuk membaca kondisi lembaganya secara lebih mendalam, mulai dari sumber daya yang telah dimiliki, karakter peserta didik, kapasitas guru, lingkungan sosial, budaya sekolah, jejaring masyarakat, hingga berbagai potensi yang selama ini sebenarnya telah tumbuh tetapi belum dirumuskan sebagai keunggulan lembaga.

Proses pemetaan tersebut dibimbing langsung oleh Tim Pengembang Sekolah Unggulan PW LP Ma’arif NU Jawa Timur, yakni Prof. Dr. Kusairi, M.Pd., Dr. Amin Hasan, M.Pd., dan Dr. Ahmad Fauzi, M.Pd.

Selama dua hari, setiap lembaga didorong untuk melakukan refleksi secara serius terhadap posisi dan karakter institusinya. Peserta diajak meninggalkan cara pandang bahwa sekolah unggulan selalu identik dengan bangunan megah, jumlah peserta didik yang besar, atau kelengkapan fasilitas.

Sebaliknya, keunggulan perlu ditemukan dari kekuatan paling autentik yang dimiliki setiap lembaga, kemudian dirumuskan, dikembangkan, dan dikelola secara konsisten sehingga benar-benar menjadi pembeda.

Ketua PC LP Ma’arif NU Tulungagung Dr. Ahmad Supriyadi mengatakan, kegiatan tersebut merupakan tahapan awal dari proses yang lebih panjang dalam menyiapkan sekolah dan madrasah unggulan di lingkungan LP Ma’arif NU Tulungagung.

Menurutnya, setiap lembaga pendidikan memiliki karakter dan potensi yang berbeda sehingga tidak tepat apabila seluruh sekolah atau madrasah diarahkan pada bentuk keunggulan yang sama.

“Setiap lembaga harus mampu menemukan keunggulan khasnya sendiri. Kita tidak ingin sekolah-sekolah Ma’arif hanya mengikuti tren atau meniru keunggulan lembaga lain. Yang perlu dilakukan adalah membaca secara jujur kekuatan yang sudah dimiliki, kemudian mengembangkannya menjadi keunggulan yang nyata dan berkelanjutan,” kata Ahmad Supriyadi.

Ia menegaskan bahwa predikat sekolah unggulan nantinya tidak cukup berhenti pada nama atau slogan. Keunggulan harus tercermin dalam proses pendidikan sehari-hari serta memberikan dampak yang dapat dirasakan oleh peserta didik dan masyarakat.

Karena itu, pemetaan menjadi tahapan yang sangat menentukan. Lembaga perlu mengetahui terlebih dahulu kekuatan dan peluang yang dimilikinya sebelum menentukan bidang unggulan yang akan dikembangkan.

“Bisa jadi ada lembaga yang kuat dalam bidang akademik, keagamaan, literasi, seni, olahraga, teknologi, lingkungan, bahasa, kewirausahaan, atau bidang lainnya. Kami ingin keunggulan tersebut lahir dari kondisi nyata lembaga, bukan sesuatu yang dipaksakan,” ujarnya.

Program ini juga menjadi bagian dari ikhtiar PC LP Ma’arif NU Tulungagung untuk meningkatkan kualitas dan daya saing lembaga pendidikan Ma’arif tanpa meninggalkan karakter pendidikan Nahdlatul Ulama.

Ke depan, hasil pemetaan dari masing-masing lembaga akan menjadi pijakan untuk menyusun tahapan pengembangan selanjutnya. Dengan demikian, proses menuju sekolah unggulan tidak dilakukan secara instan, tetapi melalui identifikasi potensi, perencanaan program, penguatan sumber daya manusia, pendampingan, implementasi, hingga evaluasi secara berkelanjutan.

Melalui langkah tersebut, LP Ma’arif NU Tulungagung berharap sekolah dan madrasah di bawah naungannya semakin memiliki identitas yang kuat. Masyarakat tidak hanya mengenal lembaga Ma’arif karena identitas ke-NU-annya, tetapi juga karena kualitas pendidikan dan keunggulan khas yang ditawarkan setiap satuan pendidikan.

Diklat Pemetaan Keunggulan Lembaga pada 8–9 Agustus 2026 ini sekaligus menandai dimulainya perjalanan baru pengembangan sekolah unggulan LP Ma’arif NU Tulungagung. Dari ruang diklat tersebut, setiap lembaga mulai diajak menjawab satu pertanyaan mendasar: apa keunggulan khas yang membuat lembaga ini berbeda, dibutuhkan masyarakat, dan layak terus dikembangkan?

Jawaban atas pertanyaan itulah yang selanjutnya akan menjadi fondasi dalam membangun sekolah dan madrasah Ma’arif yang unggul, berkarakter, dan tetap berakar kuat pada nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *