JIHAD SANTRI UNTUK KEJAYAAN NEGERI: DALIL-DALIL NASIONALISME
Khutbah I
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ هَذَا الْيَوْمَ عِيدًا لِلْمُسْلِمِينَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ هَذَا الْيَوْمَ عِيدًا لِلْمُسْلِمِينَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah.
Mengawali khutbah di siang yang penuh keberkahan ini, khatib berwasiat kepada kita semua terutama kepada diri khatib pribadi untuk senantiasa berusaha meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT dengan melakukan semua perintah-NYA dan meninggalkan seluruh larangan-NYA.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Hari ini kita berada pada momentum peringatan Hari Santri Nasional. Penetapan tanggal 22 Oktober menjadi Hari Santri Nasional tidak bisa dipisahkan dengan peristiwa bersejarah yaitu resolusi jihad yang digelorakan KH Hasyim Asy’ari dan para ulama. Resolusi jihad membela tanah Air merupakan perwujudan nyata dari prinsip hubbul wathani minal iman. Dengan begitu KH. Hasyim Asy’ari berhasil membangkitkan nasionalisme rakyat Indonesia khususnya para santri mengusir penjajah. Kiai Hasyim Asy’ari membuktikan bahwa agama dan nasionalisme bisa saling memperkuat dan tidak bisa dipertentangkan. Lalu apa dalil cinta tanah air yang menjadi ideologi kebangsaan kaum santri?
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Salah satu ayat Al-Qur’an yang menjadi dalil cinta tanah air adalah Al-Qur’an surat Al-Qashash ayat 85:
إِنَّ الَّذِي فَرَضَ عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لَرَادُّكَ إِلَىٰ مَعَادٍ
“Sesungguhnya (Allah) yang mewajibkan atasmu (melaksanakan hukum-hukum) Al-Qur’an benar-benar akan mengembalikan kamu ke tempat kembali.” (QS. Al-Qashash: 85)
“Sesungguhnya (Allah) yang mewajibkan atasmu (melaksanakan hukum-hukum) Al-Qur’an benar-benar akan mengembalikan kamu ke tempat kembali.” (QS. Al-Qashash: 85)
Syekh Ismail Haqqi Al-Hanafi Al-Khalwathi (wafat 1127 H) dalam tafsirnya Ruhul Bayan mengatakan:
وَفِيهِ إِشَارَةٌ إِلَى أَنَّ حُبَّ الْوَطَنِ مِنَ الْإِيمَانِ
“Di dalam tafsirnya ayat (QS. Al-Qashash: 85) terdapat suatu petunjuk atau isyarat bahwa ‘cinta tanah air sebagian dari iman’.”
“Di dalam tafsirnya ayat (QS. Al-Qashash: 85) terdapat suatu petunjuk atau isyarat bahwa ‘cinta tanah air sebagian dari iman’.”
Sedangkan dalil Cinta Tanah Air dari Hadits menurut penjelasan para ulama ahli hadits, adalah sebagaimana berikut:
عَنْ أَنَسٍ قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَفَلَ مِنْ سَفَرٍ فَرَأَى دَرَجَاتِ الْمَدِينَةِ أَوْضَعَ نَاقَتَهُ، وَإِنْ كَانَتْ دَابَّةً حَرَّكَهَا مِنْ حُبِّهَا بِالْمَدِينَةِ
“Diriwayatkan dari sahabat Anas; bahwa Nabi SAW ketika kembali dari bepergian, dan melihat dinding-dinding Madinah beliau mempercepat laju untanya. Apabila beliau menunggangi unta maka beliau menggerakkannya (untuk mempercepat) karena kecintaan beliau pada Madinah.” (HR. Bukhari, Ibnu Hibban, dan Tirmidzi).
“Diriwayatkan dari sahabat Anas; bahwa Nabi SAW ketika kembali dari bepergian, dan melihat dinding-dinding Madinah beliau mempercepat laju untanya. Apabila beliau menunggangi unta maka beliau menggerakkannya (untuk mempercepat) karena kecintaan beliau pada Madinah.” (HR. Bukhari, Ibnu Hibban, dan Tirmidzi).
Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalany dalam kitabnya Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari menegaskan bahwa dalam hadits tersebut terdapat dalil-dalil atas keutamaan kota Madinah dan dalil disyariatkannya cinta tanah air.
Sependapat dengan Al-Hafidz Ibnu Hajar, Badr Al-Din Al-Aini dalam kitabnya ‘Umdatul Qari Syarh Shahih Bukhari menyatakan bahwa:
وَفِيهِ دَلِيلٌ لِفَضْلِ الْمَدِينَةِ، وَمَشْرُوعِيَّةِ حُبِّ الْوَطَنِ وَالْحَنِينِ إِلَيْهِ
“Di dalamnya (hadits) terdapat dalil atas keutamaan Madinah, dan disyari’atkannya cinta tanah air dan rindu padanya.” (‘Umdatul Qari Syarh Shahih Bukhari, Beirut, Dar Ihya’i Al-Turats Al-Arabi, Juz 10, hal. 135)
“Di dalamnya (hadits) terdapat dalil atas keutamaan Madinah, dan disyari’atkannya cinta tanah air dan rindu padanya.” (‘Umdatul Qari Syarh Shahih Bukhari, Beirut, Dar Ihya’i Al-Turats Al-Arabi, Juz 10, hal. 135)
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Demikianlah dalil cinta tanah air menurut Al-Qur’an maupun Al-Hadits. Sehingga salah besar jika ada kalangan ataupun kelompok yang mengatakan bahwa cinta tanah air tidak ada dalilnya.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Adapun Jihad di era modern tidak terletak di ujung bambu runcing melainkan di ujung pena, yaitu dengan mengerahkan segenap kemampuan intelektual untuk membangun negeri. Demikian pula, jihad juga terletak di ujung jari dengan menahan diri tidak menebar hoax dan fitnah di medsos yang bisa menimbulkan perpecahan bangsa.
Semoga kita semua bisa meneruskan komitmen kebangsaan dan menjaga keutuhan bangsa seperti yang telah dicontohkan oleh para ulama, agar negara kita senantiasa damai sentosa. Amin ya robbal ‘alamin.
Demikian khutbah singkat ini semoga bermanfaat.
أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah II
الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْخَلَائِقِ وَالْبَشَرِ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ مَا اتَّصَلَتْ عَيْنٌ بِنَظَرٍ وَأُذُنٌ بِخَبَرٍ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اِتَّقُوا اللَّهَ تَعَالَى وَذَرُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ تَفُزُوْا وَتَسْلَمُوْا. إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ. عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.
PENERBIT
Khutbah ini diterbitkan oleh:
Pengurus Cabang LTMNU Kab. Tulungagung
Pengurus Cabang LTMNU Kab. Tulungagung
|
Penulis
|
Dr. Mohammad Da’i Robbi, M.Ud.
|
|
Pentashih
|
Dr. KH. Bagus Ahmadi, M.Sy., M.Pd.I
|
|
Editor
|
Komarudin, M.Pd.I
|
|
Layout
|
Husnul Qulub, S.Pd.
|
